Lelaki buta itu menenteng es cendol yang digantung berjejer di sebilah kayu di pundaknya. Ada sekitar 8 bungkus es cendol yang ia bawa, sesaat kemudian ia berhenti karena ada seorang wanita yang ingin membeli dagangannya, sebelum berhenti ia sempat menabrak sebuah mobil yang sedang parkir di depannya, yang tentunya tidak dia lihat, tapi untung dia tidak apa-apa hanya sedikit ada gerakan reflek untuk mengimbangi badannya.
Jika dihitung-hitung penghasilan lelaki buta mungkin tidak seberapa, taroklah harga es cendol 3000 rupiah, berarti uang yang ia kumpulkan dari 8 bungkus es cendol cuma 24.000 rupiah didalamnya termasuk modal membuat es cendol itu pun kalau laku semua. Walau demikian lelaki itu sangat mengahargai dirinya dengan tidak memint-minta. Dia sangat menghargai dirinya dengan tidak menjadikan kebutaannya sebagai alasan untuk mengiba belas kasihan orang lain
Di lain waktu aku sering melihat orang dengan tubuh yang masih kuat dan lengkap lebih merendahkan harga dirinya dengan meminta-minta. Pernah suatu pagi didepan kiosku ada seorang laki-laki buta dan seorang ibu-ibu mungkin suami isteri. keduanya mungkin umurnya belum separuh baya datang dengan ucapan "assalamu'alaikum" sembari menyodorkan tangan laki-laki yang buta dan aku jawab salamnya sembari memberikan selembar uang 1.000 rupiah. jika dilihat pengahasilan dua orang ini mungkin sudah lumayan, karena jam sudah sekitar jam 10-an, dan hal itu terbukti karena aku kehabisan uang seribuan sebagai kembalian uang orang yang berbelanja di kiosku nanti. Aku menukar uang ribuan sebanyak 50.000 rupiah dan ternyata lelaki dan perempuan itu punya uang lembaran seribu sebanyak itu dan ternyata di dalam uncang yang dibawanya masih banyak uang, mungkin uang seribuan, gopek'an atau mungkin puluhan ribu, jika dibandingkan penghasilanku dari pagi sampai jam 10 WIB belumlah sampai sebanyak itu (50.000 rupiah). tapi begitulah mereka merendahkan diri mereka dengan mengiba dan memohon belas kasihan orang lain.
Mungkin karena inilah profesi mengemis bagi sebagian orang lebih diminati daripada
profesi-profesi lainnya, karena cukup hanya dengan mengulurkan tangan
kepada anggota masyarakat, dia bisa mendapatkan sejumlah uang yang cukup
banyak tanpa harus bersusah payah. Naudzubillah.