Rabu, 27 Februari 2013

Harga Diri

Posted by Ardi Mytra, ST On Rabu, Februari 27, 2013 No comments
Lelaki buta itu menenteng es cendol yang digantung berjejer di sebilah kayu di pundaknya. Ada sekitar 8 bungkus es cendol yang ia bawa, sesaat kemudian ia berhenti karena ada seorang wanita yang ingin membeli dagangannya, sebelum berhenti ia sempat menabrak sebuah mobil yang sedang parkir di depannya, yang tentunya tidak dia lihat, tapi untung dia tidak apa-apa hanya sedikit ada gerakan reflek untuk mengimbangi badannya. 

Jika dihitung-hitung penghasilan lelaki buta mungkin tidak seberapa, taroklah harga es cendol 3000 rupiah, berarti uang yang ia kumpulkan dari 8 bungkus es cendol cuma 24.000 rupiah didalamnya termasuk modal membuat es cendol itu pun kalau laku semua. Walau demikian lelaki itu sangat mengahargai dirinya dengan tidak memint-minta.  Dia sangat menghargai dirinya dengan tidak menjadikan kebutaannya sebagai alasan untuk mengiba belas kasihan orang lain

Di lain waktu aku sering melihat orang dengan tubuh yang masih kuat dan lengkap lebih merendahkan harga dirinya dengan meminta-minta. Pernah suatu pagi didepan kiosku ada seorang laki-laki buta dan seorang ibu-ibu mungkin suami isteri. keduanya mungkin umurnya belum separuh baya datang dengan ucapan "assalamu'alaikum" sembari menyodorkan tangan laki-laki yang buta dan aku jawab salamnya sembari memberikan selembar uang 1.000 rupiah. jika dilihat pengahasilan dua orang ini mungkin sudah lumayan, karena jam sudah sekitar jam 10-an, dan hal itu terbukti karena aku kehabisan uang seribuan sebagai kembalian uang orang yang berbelanja di kiosku nanti. Aku menukar uang ribuan sebanyak 50.000 rupiah dan ternyata lelaki dan perempuan itu punya uang lembaran seribu sebanyak itu dan ternyata di dalam uncang yang dibawanya masih banyak uang, mungkin uang seribuan, gopek'an atau mungkin puluhan ribu, jika dibandingkan penghasilanku dari pagi sampai jam 10 WIB belumlah sampai sebanyak itu (50.000 rupiah). tapi begitulah mereka merendahkan diri mereka dengan mengiba dan memohon belas kasihan orang lain.

Mungkin karena inilah profesi mengemis bagi sebagian orang lebih diminati daripada profesi-profesi lainnya, karena cukup hanya dengan mengulurkan tangan kepada anggota masyarakat, dia bisa mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak tanpa harus bersusah payah. Naudzubillah.





Selasa, 26 Februari 2013

Jenuh

Posted by Ardi Mytra, ST On Selasa, Februari 26, 2013 1 comment

ketika kejenuhan menerpa segala sesuatu menjadi tidak enak untuk dilakukan. Emosi tak menentu, semuanya serba tak jelas. Hal-hal sepele bisa memancing kemarahan. Hari terasa begitu panjang. Maunya apa? juga tidak jelas. dibawa tidur gak bisa, coba ngeblog juga buntu, pokoknya udah buntu banget deh.... ya seperti itulah ketidaktentuan memenuhi hari-hari jenuh. hal itulah yang dirasakan jiwaku sekarang, mau curhat? sama siapa? sama Allah? Pastinya....

Pengen deh kabur dari tempat ini, pekerjaan ini, aktifitas ini, pemandangan ini, nuansa ini, kehidupan ini (jangan deh .. mati donk..) semua serba ini tidak ada yang itu. ya... benar inilah penyebabnya kegiatan monoton setiap hari tanpa dinamika yang jelas seakan memuakkan jiwa kita yang senantiasa beronta ingin bebas berekspresi. inilah salah satu bukti perbedaan itu indah.... (masuk gak ya?). Aktifitas yang perbeda, nuansa yang penuh warna pasti lebih menggairahkan hidup. Caranya? ada yang tau?

Teringat pesan seorang Ikhwah junior dikampus dulu Akhi Satrimansyah, mungkin ini bisa menjadi solusi, apa kata beliau... "kalau bantuak itu babini lah lai bang..." ada benarnya juga sih, maunya juga begitu sih. Tapi kalau jodoh memang belum datang harus gimana lagi? sudah berusaha? sudah... proposal dah lama tuh... PL aja kali ya?..

Senin, 25 Februari 2013

Ta'aruf Singkat

Posted by Ardi Mytra, ST On Senin, Februari 25, 2013 No comments

Nama yang diberikan oleh orang tua yaitu Ardi Mytra. Berasal dari Ranah Minang, tepatnya di Kenagarian Padang Ganting, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. 

Riwayat pendidikan SD, SMP, SMA di lalui di kampung halaman. sempat merantau ke kota Bukittinggi dalam rangka kursus bahasa inggris dan Bahasa Jepang. sayangnya sampai sekarang aku masih belum bisa berbahasa Inggris dan Bahasa Jepang, yang pasti sangat lancar berbahasa Minang, berbahasa Indonesia, berbahasa melayu, dan sedikit bahasa Jawa. 

Tahun 2005 Hijrah ke Kota Padang, sempat kuliah di Jurusan Teknik Industri Universitas Bung Hatta dan Alhamdulillah selesai dan di wisuda, baru 'wisuda Baju Hitam', 'wisuda baju merah' masih sampai wacana hangat. kapan-kapan.......

Aktivitas sekarang menjadi pengusaha kecil-kecilan, semoga saja nanti bisa menjadi pengusaha Besar... amin...

Hoby membaca apa saja selagi bermanfaat baik itu buku sains, agama, novel dan sebagainya, menulis sajak, cerpen, dan mencoba menulis novel, Suka berorganisasi dalam merajut Ukhuwah dan menggali potensi diri, suka Photography.

Soal cita-cita aku tak mau muluk-muluk, aku cuma ingin menjadi 'Turis'. aku ingin melancong ke penjuru dunia, aku ingin berkelana kepelosok negeri. Aku ingin mendaki gunung menuruni lembah. Aku ingin berkunjung ketempat-tempat yang jauh. Aku ingin berbaur dengan orang-orang asing dengan bahasa yang asing dan adat istiadat asing. Aku ingin berkelana melewati gurun. aku ingin menaklukkan dunia mulai dari ujung barat negeri magrib Maroko sampai keujung timur IndONEsia di papua. Dari Eropa hingga Amerika. ya.. Aku cuma ingin menjadi turis sampai sekarang baru sebatas keinginan, mudah-mudahan suatu saat nanti akan tercapai.

Dalam memotivasi diri untuk mencapai kebaikan dalam hidup aku pegang moto yang aku adopsi dari moto seorang ulama besar Syaikh Prof.Dr.Wahbah Az Zuhaili, yaitu “Inna sirra an-najah fi al-hayah ihsan ash-shilah billah `azza wa jalla”, yang artinya, "Sesungguhnya, rahasia kesuksesan dalam hidup adalah membaikkan hubungan dengan Allah `Azza wa jalla". terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah.

demikian saja ta'aruf singkat ini....

Eternity Love

Posted by Ardi Mytra, ST On Senin, Februari 25, 2013 No comments

Tak pernah benar-benar pergi rasa itu
dia tertanam dalam sanubari
umbaran kata2 meyusutkannya tak menghapusnya
gelombang rindu mengabadikannya
gejolak dendam menyiksanya
air mata bagai guyuran embun menyejukkannya...